3

Ketaatan yang Membawa Keselamatan Renungan 25 Februari 2018 Bacaan: Kejadian 22:1-2, 9a, 10-13, 15-18 Mazmur 116:10,15,16-17, 18-19 Roma 8:31b – 34 Markus 9:2-10 M enurut Badan Kesehatan Dunia, sebanyak 22% korban tewas dalam kecelakaan adalah pejalan kaki. Penyebab yang terbanyak ternyata ke-tidak-hati-hati-an pejalan kaki sendiri. Salah satunya adalah keengganan menggunakan fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO). Keberadaan JPO kadang dianggap merepotkan. Betapa tidak, tujuan sudah tampak di seberang jalan tapi kita tidak bisa begitu saja menuju ke sana. Jika sedang terburu-buru atau cuaca terik, jarak menuju JPO yang hanya beberapa meter saja bisa jadi berkilo-kilo meter rasanya. Beberapa orang memilih untuk langsung menyeberang dan bikin lalu lintas jadi semrawut. Sekali dua kali dia selamat, tapi berikutnya siapa tahu? Karenanya, setiap manusia dituntut untuk taat pada aturan. Injil Markus hari ini mengisahkan peristiwa transfigurasi, saat Yesus berubah rupa dan dipenuhi cahaya kemuliaan di atas gunung. Yesus tampak berbincang dengan Elia dan Musa. Kejadiannya sungguh indah, membuat Petrus, Yakobus, dan Yohanes terkesima. Petrus bahkan punya ide membangun kemah di sana. Enam hari sebelum Yesus dan ketiga muridnya naik gunung, Ia memberitakan tentang Anak Manusia yang harus menderita, dibunuh, dan bangkit kembali. Yesus juga mengatakan bahwa syarat untuk mengikuti Dia adalah penyangkalan diri dan mau memikul salib. Ketaatan serupa pernah dilakukan Abraham saat hendak menjadikan Ishak sebagai korban bakaran demi mengikuti kehendak Allah (Kej. 22:12). Betapa pedih hati Abraham saat itu. WARTA UTAMA WARTA UTAMA RENUNGAN Masa Prapaskah adalah saat refleksi diri. Seringkali kita serupa Petrus, maunya serba indah dan nyaman saja. Tidak mau tahu bahwa situasi seperti itu tidak terjadi begitu saja. Harus diupayakan, bahkan jika perlu mengorbankan ego pribadi. Berat memang. Namun Allah tidak akan pernah meninggalkan umat yang dikasihiNya (Rm 8:31b). Di tengah rutinitas dan berbagai kendala yang ada, mari buka hati dan pikiran untuk mendengarkan suara Tuhan dan mematuhiNya (Mrk 9:7). Ketaatan pada Allah memampukan kita menjadi manusia baru dan menjadi saksi atas keselamatan yang telah diberikan. (ET) WARTA AMBROSIUS 3

4 Publizr Home


You need flash player to view this online publication