10

Virginintas in partu - keperawanan saat proses pelahiran (Kathleen Coyle, Mary in the Christian Tradition, ibid., hlm. 28). Wacana iman yang baru ini tampaknya tidak menimbulkan keberatan bagi umat beriman, meskipun hal ini tak ditegaskan dan tak muncul di dalam testimony para pengarang Injil. Karena tidak bertentangan dengan iman Gereja, maka pengertian ini diterima saja oleh umat beriman maupun para teolog sendiri atas dasar keluasan makna keperawanan Maria itu sendiri. (c) Virginitas post partum: Meski pengertian kedua Virginitas in partu di atas dipandang tak bertentangan dengan ajaran iman, toh para Bapa Patristik tidak ingin mencampur-adukkan paham Gereja dengan yang dari luar. Karenanya, Bapabapa Patristik lalu membuat penegasan bahwa Maria tetap perawan di seluruh hidupnya, dengan itu mencakup masa sebelum proses pelahiran, masa pelahiran sendiri, hingga seterusnya sesudah pelahiran itu di masa hidup Maria (Kathleen Coyle, Mary in the Christian Tradition, ibid., hlm. 28). Kaum teolog biblis menyebut ini dogma Virginitas post partum - keperawanan sesudah proses pelahiran. Dengan lahir dan berkembangnya iman yang baru tentang keperawanan Maria yang luas, maka para bapa konsili secara resmi menegaskan hal ini sebagai dogma. Pada Konsili Lateran tahun 649, Bapa-bapa Gereja menyatakan dogma iman atas keperawanan Maria yang mencakup masa sebelum pelahiran, saat pelahiran, dan sesudah pelahiran Yesus (Denzinger Schonmetzer, Enchiridion Symbolorum Definitionum Declarationum 503, dalam buku The Christian Faith, oleh J. Neumer dan J. Dupuis, eds., London: Collins/Liturgical Press, 1983). Paus Paulus IV (1555-1559), ketika diangkat sebagai Paus segera menegaskan lagi dogma keperawanan Maria dari Konsili Lateran dalam Konstitusinya bernama Cum Quorumdam Hominum (7 Agustus 1555). Dan Katekismus dari Konsili Trente ikut menegaskan keperawanan Maria menyeluruh itu (Mark l. Miravalle, Introduction to Mary: The Heart of Marian Doctrine and Devotion, Goleta, CA: Queenship Publishing, 2006, hlm. 58-59). Dan Paus Pius XII juga dengan tegas menyatakan keperawanan Maria menyeluruh itu dalam ensikliknya tentang Tubuh Mistik Kristus tahun 1943, diikuti oleh penegasan sama dari Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium No. 52 dan 57, yang menyebut Bunda Maria sebagai “glorious ever Virgin Mary’ (in Perpetual Virginity). Iman atas keperawanan ini dijelaskan panjang lebar oleh Katekismus Gereja Katolik (No. 484-507: Ende, 1995, hlm. 154-160) Pasca-dogma Virginitas Maria yang bernuansa keperawanan biologis ini, para teolog biblis kini menempuh pemikiran baru yang mulai menekankan unsur keperawanan yang lebih bernuansa kesucian/kekudusan spiritual-moral Sang Bunda sejak awal. Totalitas keperawanan Maria mulai diselami lebih dari sekedar aspek biologis saja melainkan aspek moralitasnya yang giat digeluti dalam dogma modern. (WAB) 10 WARTA AMBROSIUS

11 Publizr Home


You need flash player to view this online publication